Info

WELCOME TO TRIO ARDHIAN'S

Saya senang anda telah bekunjung di sini, dan berharap anda sering datang kembali. Silakan nikmati suguhan yang telah ada pada posting blog saya, walaupun masih sederhana dan jauh dari sempurna, semoga bisa bermanfaat bagi anda.

Profil Trio Ardhian's

Nama lengkap saya Trio Ardhian, sejenak apabila anda memperhatikan sama seperti nama blog saya. Saya merupakan blogger newbie yang berusaha untuk mengumpulkan pundi-pundi ilmu demi menambahkan wawasan yang bisa bermanfaat bagi diri saya dan orang lain.

By: Trio Ardhian's
Tutorial
Flying Bird Twitter For Blog
Read More
1 2 3 4 5
Loading...

ALiran Mu'taziLah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suatu akibat dari pemikiran para filosof dari pada ajaran dan wahyu dari Allah mengakibatkan banyak ajaran Islam yang tidak mereka akui, karena menyelisihi akal menurut prasangka mereka. Berbicara perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya, karena terus menerus terjadi perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya khowarij dan syiah kemudian muncul suatu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan kebebasan berfikir, satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar, sehingga banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini, akhirnya mengakibatkan terjadinya pecah dan berpaling kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya. Akibat dari hal tersebut, bermunculanlah kebidahan-kebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam yaitu mereka lebih mendahulukan akal. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menasehati saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok Mu'tazilah yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dikembangkan oleh para kolonialis kristen dan yahudi dalam menghancurkan kekuatan kaum muslimin dan persatuannya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah munculnya golongan mu’tazilah?
2. Apa saja ajaran yang diajarkan oleh aliran mu’tazilah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Munculnya golongan atau kelompok Mu’tazilah
Sejarah munculnya aliran mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105-110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha' berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah). Secara harfiah kata Mu’tazilah berasal dari I’tazala yang berarti berisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis, istilah Mu’tazilah menunjuk ada dua golongan. Golongan pertama, (disebut Mu’tazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebahai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Menurut penulis, golongan inilah yang mula-mula disebut kaum Mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum Mu’tazilah yang tumbuh dikemudian hari. Golongan kedua, (disebut Mu’tazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Mur’jiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Mur’jiah tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Mu’tazilah II inilah yang akan dikaji dalam bab ini yang sejarah kemunculannya memiliki banyak versi.

B. Beberapa Versi Tentang Nama Mu’tazilah
Beberapa versi tentang pemberian nama Mu’tazilah kepada golongan kedua ini berpusat pada peristiwa yang terjadi antara wasil bin ata serta temannya, Amr bin Ubaid, dan hasan Al-Basri di basrah. Ketika wasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Hasan Al Basri di masjid Basrah., datanglah seseorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Al Basri tentang orang yang berdosa besar. Ketika Hasan Al Basri masih berpikir, hasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan “Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.” Kemudian wasil menjauhkan diri dari Hasan Al Basri dan pergi ke tempat lain di lingkungan mesjid. Di sana wasil mengulangi pendapatnya di hadapan para pengikutnya. Dengan adanya peristiwa ini, Hasan Al Basri berkata: “Wasil menjauhkan diri dari kita (i’tazaala anna).” Menurut Asy-Syahrastani, kelompok yang memisahkan diri dari peristiwa inilah yang disebut kaum Mu’tazilah. Versi lain dikemukakan oleh Al-Baghdadi. Ia mengatakan bahwa Wasil dan temannya, Amr bin Ubaid bin Bab, diusir oleh Hasan Al Basri dari majelisnya karena adanya pertikaian diantara mereka tentang masalah qadar dan orang yang berdosa besar. Keduanya menjauhkan diri dari Hasan Al Basri dan berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak mukmin dan tidak pula kafir. Oleh karena itu golongan ini dinamakan Mu’tazilah. Versi lain dikemukakan Tasy Kubra Zadah yang menyatakan bahwa Qatadah bin Da’mah pada suatu hari masuk mesjid Basrah dan bergabung dengan majelis Amr bin Ubaid yang disangkanya adalah majlis Hasan Al Basri. Setelah mengetahuinya bahwa majelis tersebut bukan majelis Hasan Al Basri, ia berdiri dan meninggalkan tempat sambil berkata, “ini kaum Mu’tazilah.” Sejak itulah kaum tersebut dinamakan Mu’tazilah. Al-Mas’udi memberikan keterangan tentang asal-usul kemunculan Mu’tazilah tanpa menyangkut-pautkan dengan peristiwa antara Wasil dan Hasan Al Basri. Mereka diberi nama Mu’tazilah, katanya, karena berpendapat bahwa orang yang berdosa bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, tetapi menduduki tempat diantara kafir dan mukmin (al-manjilah bain al-manjilatain). Dalam artian mereka member status orang yang berbuat dosa besar itu jauh dari golongan mukmin dan kafir.

C. Ajaran yang Diajarkan Oleh Golongan Mu’tazilah
Ada beberapa ajaran yang di ajarkan oleh golongan Mu’tazilah yaitu misalnya: Al – ‘adl (Keadilan). Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan. Dalilnya kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) Allah adalah firman Allah : “Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205) “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya”. (Az-Zumar:7) Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi (mentaqdirkannya) oleh karena itu merekan menamakan diri mereka dengan nama Ahlul ‘Adl atau Al – ‘Adliyyah. Al-Wa’du Wal-Wa’id. Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah. Kaum mu'tazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan-persoalan yang dibawa kaum khawarij dan murji'ah. dalam pembahasan , mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama "kaum rasionalis Islam". Aliran mu'tazilah merupakan aliran teologi Islam yang terbesar dan tertua, aliran ini telah memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran dunia Islam. Orang yang ingin mempelajari filsafat Islam sesungguhnya dan yang berhubungan dengan agama dan sejarah Islam, haruslah menggali buku-buku yang dikarang oleh orang-orang mu'tazilah, bukan oleh mereka yang lazim disebut filosof-filosof Islam. Aliran Mu'tazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama hijrah di kota Basrah (Irak), pusat ilmu dan peradaan dikala itu, tempat peraduaan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam agama. Pada waktu itu banyak orang-orang yang menghancurkan Islam dari segi aqidah, baik mereka yang menamakan dirinya Islam maupun tidak.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Secara harfiah Mu’tazilah adalah berasal dari I’tazala yang berarti berpisah. Aliran Mu’taziliyah (memisahkan diri) muncul di basra, irak pada abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar aliran Mu’tazilah yang menolak pandangan-pandangan kedua aliran di atas. Bagi Mu’tazilah orang yang berdosa besar tidaklah kafir, tetapi bukan pula mukmin. Mereka menyebut orang demikian dengan istilah al-manzilah bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi). Aliran ini lebih bersifat rasional bahkan liberal dalam beragama. Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional dan cenderung liberal ini mendapat tantangan keras dari kelompok tradisonal Islam, terutama golongan Hambali, pengikut mazhab Ibn Hambal. Sepeninggal al-Ma’mun pada masa Dinasti Abbasiyah tahun 833 M., syi’ar Mu’tazilah berkurang, bahkan berujung pada dibatalkannya sebagai mazhab resmi negara oleh Khalifah al-Mutawwakil pada tahun 856 M. Perlawanan terhadap Mu’tazilah pun tetap berlangsung. Mereka (yang menentang) kemudian membentuk aliran teologi tradisional yang digagas oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari (935 M) yang semula seorang Mu’tazilah.

B. Saran-saran
Dalam pembuatan makalah ini dirasa oleh penulis jauh dari sempurna, maka saya mengharapkan masukan yang sifatnya membangun agar dalam pembuatan makalah yang akan datang, jauh lebih baik dan benar.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Jauhari, Heri, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, CV Pustaka Setia, Bandung
http://www.almanhaj.or.id/
Harun Nasution, Teologi IslamAliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986), Cet. ke-5, hal. 38
Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Mu’taziliyah, dalam website http://id.wikipedia.org
Valiuddin, Mir. 2004. Aliran Mu'tazilah, dalam M.M. Sharif (Ed.). Aliran-aliran Filsafat Islam. Bandung: Nuansa Cendekia.

Ilmu Balaghah (Ilmu Bayan)

Trio Ardhian's
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa Arab pertama sekali dikenal sebagai bahasa-bahasa orang-orang dizajirah Semenanjung Arabia, kemudian setelah datangnya agama Islam dikenal pula sebagai bahasa Al-Quran sebagai pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam bahasa Arab yang sangat indah susunannya dan rangkaian kalimatnya. Bahasa Arab dikenal juga sebagai ilmu pengetahuan, jika dilihat dari segi penggunaannya maka bahasa Arab ini terbagi dua yaitu : Bahasa Ammiyah (bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi), berasal dari bahasa daerah di Jazirah Arabiya tidak terikat pada tata bahasa. Kedua bahasa fushah yaitu bahasa resmi, contohnya bahasa Al-Quran dan Hadist, untuk karangan ilmiah kitab-kitab, surat-menyurat dan komunikasi resmi lainnya. Bahasa fushah (resmi) ini mempunyai tingkat kesulitan tersendiri karena terikat erat dengan peraturan kebahasaan diantaranya ilmu nahwu (qawaid) dan ilmu balaghah Semantik Arab.
Ilmu balaghah tetap dianggap sebagai ilmu yang tersulit untuk dicerna, sebab ilmu ini akan menterkaitkan antara komponen-komponen ilmu bahasa Arab yang lainnya. Namun jika dipelajari dengan penghayatan yang tinggi serta dihubungkan pula kepada kegunaannya dari sisi ilmu-ilmu agama jelas akan mendatangkan kenikmatan tersendiri dan dapat memperkaya dan mempertajam mata bathin manusia, sehingga menimbulkan dampak kehidupan yang baik serta dapat mengusir kejenuhan untuk mempelajarinya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ilmu bayan?
2. Bagaimana pembagian pada ilmu balaghah?
3. Bagaimana keberadaan ilmu balaghah sebagai cabang ilmu bahasa?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu Bayan
Al-Bayan (البيان) menurut pengertian bahasa adalah Al-Kasyafu (الكشف) yang berarti membuka atau menyatakan. Bisa juga disebut Al-Lidhaah artinya menerangkan atau menjelaskan. Menurut istilah ulama Balaghah (Al-Balaghah) adalah : “Dasar-dasar dan kaidah-kaidah untuk mengetahui cara menyampaikan satu makna dengan beberapa cara yang sebagiannya berbeda dengan sebagian yang lain dalam menjelaskan segi penunjukan terhadap keadaan makna tersebut.” Jadi, ilmu bayan adalah ilmu pengetahuan yang dijadikan pedoman untuk menyatakan satu makna dengan beberapa bentuk yang berbeda dan susunan yang berlainan derajat kejelasannya. Perlu diketahui bahwasannya yang dianggap dalam ilmu bayan adalah kehalusan makna-makna yang terdiri dari isti'arah dan kinayah beserta jelasnya lafadz-lafadz yang menunjukkannya. Dari itu dapat disimpulkan bahwa Al-Bayan adalah lafadz atau ucapan yang fasih yang menjelaskan maksud yang ada dalam hati nurani.
Ilmu bayan adalah lafadz-lafadz Arab dari segi majaz dan kinayah. Sedangkan hakikat dan tasyabih, bukan termasuk dalam pembahasan ilmu bayan. Faedah ilmu bayan adalah dapat melihat atau mengetahui rahasia-rahasia kalimat Arab, baik prosa maupun puisinya, dan juga mengetahui perbedaan macam-macam kefasikan dan perbedaan tingkatan sastra, serta dapat mengetahui tingkat kemukjizatan Al-Qur'an dimana manusia dan jin kebingungan untuk menirunya dan tidak mampu menyusun.

B. Pembabagian llmu Balaghah
Ilmu balaghah sebagaimana diketahui terdiri dari bahagian yaitu : Ilmu bayan dan ilmu ma'ani. Untuk lebih jelasnya pembagian dari ilmu balaghah ini akan dijelaskan dalam sub-sub pembahasan ini.

1) Ilmu Bayan
Adalah ilmu yang menjelaskan seluk beluk bahasa Arab dimulai dari mengetahui uslub (ragam bahasa) puisi dan prosa. Pembagian ilmu bayan meliputi:
a. Tasybih, rukun tasbih. Pembahagian tasybih dan kegunaan ungkapan tasybih .
b. Balaghah dan pengaruhnya bagi orang Arab dan bahasa Arab bagi para pembicara dan lawan bicara.
c. Pembahasan tentang Majaz serta pembahagiannya
d. Isti'ara (kata pinjaman) beserta pembahagiannya.
e. Kinayah dan pembahagiannya.

 Keterangan ringkas mengenai pembahasan ilmu bayan :
a) Tasybih
Jika dilihat dari asal kata, tasybih berasal dari kata ٩بش (syabbaha), mengingat masamuda, mensifatkan kecantikan gadis. (Muhammad Yunus, 1973:188). Dari segi ilmu balaghah adalah menyempakan sesuatu kepada sesuatu yang lain dalam bahasa arab disebut :
Itu ditujukan supaya dapat menggambarkan hal rang tersembunyi, hal yang jauh, dan yang dekat, menambah ketinggian derajat, memuji keindahan, kelebihan seseorang atau kelompok, sehingga menyentuh perasaan orang.
• Arkanutasybih yaitu :
 Musyabbah yaitu suatu yang dipersamakan.
 Musyabbah bih yaitu yang diumpamakan.
 Adat Tasybih yaitu lafaz yang dipergunakan untuk membuat suatu perumpamaan.
 Wajah syabah yaitu suatu sisi yang dipersamakan.
 Musyabbah : Musyabbah bih, adat tasybih, dan wajah syabah. Dilihat dari struktur arkanu t – tasybih :

Wajah Syabah :
1. Tasybih Mursal
Musyabah : Musyabah bih, adat tasybih, wajah syabah
2. Muakkad
Muasyabbah : Musyabah bih, adat tasybih, wajah syabah
3. Mujmal
Musyabbah : Musyabah bih, adat tasybih, wajah syabah
4. Mufassal
Musyabah : Musyawarah bih, adat tasybih, wajah syabah
5. Baligh
Musaybbah : Musyabah bih, adat tasybih, wajah syabah
6. Tamtsil (wajah syabah bersjfat majemuk serta memerlukan pemikiran dan
Khayalan): Musyabbah: Musyabah bili, adat tasybili, wajah syabah
7. Ghairu t-tamtsil (wajah syabah yang lugas, tidak memerlukan banyak hayalan dan penafasiran): Musyabbah: Musyabah bili, adat tasybili, wajah Syabah Tasybih jika dilihat dari sudut linguistik dapat dipadankan dengan istilah gaya bahasa metafora.

b) Majaz
Majaz juga dikenal dalam bahasa Indonesia yang berarti makna kiasan atau figuratif meaning (pemakaian kata-kata yang bukan pada arti yang sebenarnya). Contoh :
Artinya : Seorang pemberani berpidato di depan kita. Ditinjau dari padanan peristilahan semantik bahasa Indonesia majaz ini termasuk gaya bahsa Hiperbola dalam kelompok gaya bahsa pertentangan.

c) Isti’arah
Ist’arah merupakan kata pinjaman yaitu penggunaan kata dengan tujuan memperkuat makna yang terkandung dalam kata tersebut (makna tersirat) Isti’arah terbagi dua :
a. Tasyrihiyah : dipadankan dengan anti klimaks yakni penitik makna pada lapaz musyabbah bih.
Contoh :
Kitabun anzalnahu ilayka li tu hkrija n-nasu mina z-zulumati ila n-nuri
Kitab (AI-Qur'an) ini diturunkan adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada bahaya.
b. Makniyah: Dari peristilahan semantik indonesia di sebut gaya bahasa klimaks, pada isti'arah makniyah ini lafaz musyabbah bih dibuang dan digantikan dengan kata yang lazin dipergunakan sebagai rangkaian kata tadi.
Contoh :
Inni la ara ra'usan qad ainaat wa hana qitafuha wa ini lashabuha (Aku telah melihat kepala-kepala yang siap dipetik akulah empunyanya).

d) Kinayah
Kinayah (gaya bahasa Antonomasia) adalah gaya bahasa yang mengandung makna kiasan dan sindiran.
Kinayah ini dibagi kepada dua bahagian yakni :
1. Kinayah Sifat : suatu sindiran yang ditujukan untuk menyatakan sifat seseorang. Contoh : Thawilu n-najadi rafi'u l-imadi kastiru r-ramadi iza ma syata (Banyak pertolongan ringan pekerjaan banyak api unggun di musim dingin)
2. Kinayah Mausuf sindiran yang ditujukan kepada seseorang.

2) Ilmu Ma’ani
Ilmu ma'ani adalah ilmu untuk mengetahui kejelasan ucapan Arab sesuai dengan situasi kondosinya. Ilmu ma'ani merupakan pengetahuan untuk menentukan beberapa kaedah untuk pemakaian kata sesuai muqtadal hal. Jelasnya ilmu ma'ani itu adalah suatu peraturan tentang pemberian makna yang tepat sesuai dengan redaksi kalimat.
 Dalam kelompok ilmu ma' ani ini akan dibahas mengenai :
 Kalam khabari dan insya.
 Zikru dan Hazfu.
 Taqdim dan ta'hir.
 Qashar.
 Washal dan fashal.
Untuk mempermudah pemahaman pembaca pemula maka akan dijelaskan di sini tentang kalam khabari dan insya'i. Menceritakan tentang kalam tidak dapat terlepas dari Musnad dan Musnad ilyhi juga Mutakallim, mukhatab dan kalam itu sendiri (isi dan manfaat kalam) Kalam khabari yaitu kalam (kalimat) yang mengandung pengertian (arti) benar atau dusta, sedangkan kalam insya'i suatu kalimat yang tidak mengandung pengertian benar dan dusta. Setiap kalam baik berbentuk khabari atau insyai mempunyai dua rukun (komponen) yakni mahkum alayhi dan mabkum bib, disebut juga dengan musnad ilayhi dan musnad .
Contoh 1:
yabunayya ta'allam husna l-istima'l kama tatallam husna l-hadis (hai anakku perhatikanlah pelajaranmu sebagaimana engkau mempelajari kata-kata yang baik)
Contoh 2:
Nukilan sajak Abu Nawas (penyair seribu satu malam)
Ar-rizqu wa L-hirmanu majrahuma bima qadha L-lahu wa ma qaddaral (Rezki dan kehormatan itu sama-sama dilimpahkan sesuai dengan ketentuan Allah dan sesuai dengan ukurannya).
Penganalisaan dari kedua contoh diatas sebagai berikut :
Jumlah (kalimat) : Jenis, musnad ilayhi, Musnad.

C. Keberadaan Ilmu Balaghah Sebagai Cabang Ilmu Bahasa
Ilmu balaghah yang sekilas berbeda dengan ilmu-ilmu babasa yang lain seperti ilmu nahwu dan sarf, qira'ah dan muthala'ah berbeda dengan mu'jamiyah dan ilmu as-ashaut. Namun bila dianalisis secara seksama maka dapat diperincikan keterangan mengenai keterkaitan ilmu al-balaghah dengan ilmu-ilmu bahasa yang lain. Keberadaan ilmu balaghah sebagai salah satu dari cabang ilmu bahasa akan tampak jelas jika diperbandingkan antara ilmu-ilmu tersebut. Keberadaan ilmu balaghah sebagai ilmu bahasa Arab tahapan awal terlihat pada kelompok llmu bayan. Dalam ilmu bayan terdapat kalam (kalimat yang sempurna) yang terdapat juga dalam ilmu nahwu yang disebut dengan al-jumlatu I-mufidatu (kalimat yang sempurna)

D. Keberadaan llmu Balaghah Dari Segi Uslub
Uslub adalah gaya bahasa atau susunan kalimat yang dituturkan dengan baik, sehingga membuat pembaca atau pendengar terkesima. Uslub dalam ilmu balaghah dapat dipadankan dengan ragam bahasa Indonesia dari sisi linguistic (tata bahasa) Indonesia. Ragam bahasa yang tercermin dari ilmu balaghah itu terdiri dari : ragam bahasa ilmiah dan ragam bahasa sastra.
 Ragam Bahasa Retorik (Pidato)
a. Ragam bahasa ilmiah adalah ragam bahasa yang dipergunakan untuk menjelaskan sesuatu secara ilmiah, ragam bahasa ini digunakan dikalangan pendidik, ilmuwan, dan cendikiawan dalam berbagai disiplin ilmu.
b. Ragam bahasa sastra adalah ragam bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan bahasa yang indah mempunyai nilai estetik tinggi, ada kalanya mempunyai penyimpangan dari peraturan nahwu dan sarf. Ali Jarim menyebutkan bahwa : "Uslub adabi adalah ragam bahasa yang sulit yang sangat memerlukan keterampilan dan pemikiran yang khusus dan memerlukan khayalan penterjemah untuk mengekspresikannya.
c. Ragam bahasa retorik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh para Da'I, ahli pidato (orator), ditujukan untuk terampil berargumentasi. Ragam bahasa retorik ini di bahas pada ilmu balaghah dalam kelompok ilmu badi'i. (Al-hasymy dalam muqaddimah jawahiri 1- Balaghah). Berpidato merupakan suatu keterampilan yang sangat berharga didalam khalifah-khalifah masyarakat Arab bahkan sebelum datangnya Islam. Untuk menyusun kalimat dengan berbagai uslub yang telah disebutkan tadi diperlukan ilmu tata bahasa Arab sintaksis Arab ini akan memberikan satu rumusan tentang bentuk kalimat Islamiyah, bentuk kalimat fi'liyah dan bentuk syibhu jumlah. Dari struktur fi’liyah dikenal adanya subjek dan predikat atau dari balaghah yang disebut mahkum ‘alayhi dan mahkum fih. Demikian juga struktur jumlah islamiyah akan terdiri dari mahkum alayhi dan mahkum fih.

E. Keberadaan Balaghah dari Segi Struktur
llmu balaghah memperkenalkan banyak struktur kalimat dan dari segi isi (makna kalimat). Struktur kalimat dalam ilmu balaghah adakalanya terdiri dari ismiyah dan adakalanya jumlah fi'liyah. Struktur jumlah ismiyah sama dengan struktur yang ada pada jumlah al kahabari. Pengenalan tentang mubtad' dan khabar (jumlah ismiyah) yang terdiri dari jumlah musnad dan musnad ilayhi. Struktur yang terbalik dapat saja dalam ilmu balaghah jika kalimat tersebut hasil karya sastra. Hal seperti ini menandakan adanaya satu kebebasan memilih struktur bagi para sastrawan.
Kesamaan struktur amar antara ilmu nahwu dan ilmu balaghah terlihat jelas dari cara pembentukan amar, yaitu :
• Dibentuk dari fi'il amar asli dengan makna perintah secara hakiki (sebenarnya).
• Bentuk fi'il mudhari' didahului lam amar.
• Bentuk ism fi'il amar.
• Bentuk masdar sebagai ganti fi'il amar.
Untuk kesamaan struktur ini para ahli balaghah menuliskan sama dalam buku buku mereka, tidak ada yang menuliskan adanya satu perbedaan struktur. Struktur nahyi pads ilmu balaghah juga "mempunyai kesamaan dengan ilmu nahwu demikian juga dengan struktur istifham dan struktur tamanny. Urgensi illmu Balaghah akan sangat terasa apabila diperhatikan kegunaannya ketika menterjamahkan kalimat. Karena dalam balaghah ada arti leksikal dan ada arti gramatikal. Suatu contoh dapat diperhatikan : ‘la takullahuma uffun' (janganlah kau katakan ah, pada kedua orang tua mu).Kalau seseorang tidak menggunakan ilmu balaghah maka ia tidak akan sampai kepada arti sebenarnya yang terkandung dalam kalimat itu. Makna sebenarnya jauh lebih dalam dari apa yang diterjemahkan. Makna tersirat (tersembunyi) dari kalimat diatas adalah sedangkan mengucapkan “ah” saja dilarang dalam Islam apa lagi berbuat kasar dan tidak baik terhadap orang tua. Sindiran-sindiran halus dari bahasa Al-Quran akan terasa membekas di dalam benak seseorang, apabila ia telah mengetahui balaghah dan dasar-dasar ilmu terjemah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan ilmu bayan, yang telah saya paparkan telah meliputi sejumlah aspek ilmiah bahasa (al-fasahah, al-balaghah dan al-uslub) serta aspek keindahan bahasa (al-tashbih, al-hakiki, al-majazi, dan al-kinayah) semuanya memberikan suatu pengaruh yang besar dlam penyampaian teks (kalam). Meskipun pengertian singkat dari komponen ilmu balaghah itu secara singkat dipandang perlu pula untuk mengetengahkan uraian tentang ilmu balaghah agar tampak jelas keurgensian (keberadaan) ilmu balaghah tersebut. Adapun pengertian dari segi etimologi adalah sampai atau berkesudahan atau sampai. Menurut pengertian dari sisi kesusastraan ialah "penonjolan makna” dan pengertian kalimat yang jelas, sampai tertanam pada hati pembaca dan pendengarnya (diungkapkan oleh Syaid Ahrnad Aal-Hasymy). Al-Mukaffa menyatakan bahwa balaghah adalah beberapa makan yang terpancar dari suatu kalimat melalui beberapa cam, sebagian dengan isayarat , berbicara, berpidato, diskusi, surat-menyurat, karangan yang umumnya merupakan "wahyu" pada kalimat indah, ringkas tepat dan lugas.
Jika kita perhatikan dari keterangan-keterangan fakar ilmu balaghah dari beberapa regenerasi dapat disimpulkan bahwa ilmu balaghah adalah ilmu yang mengungkapkan metode untuk mengungkapkan bahasa yang indah, mempunyai nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hat (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya. Keberadaan ilmu balaghah sebagai ilmu bahasa Arab akan terlihat dengan jelas jika dipergunakan kacamata balaghah, dengan demikian akan mudah pula untuk mengerti pesan yang terkandung dalam serangkaian kalimat, baik berbentuk sastra ataupun yang bukan sastra.

B. Saran-saran
Setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa terbiasa diucap. Kendala untuk mengerti ilmu balaghah atau bahasan mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Sebagai staf pengajar penulis menyarankan agar setiap, mahasiswa mempelajari tentang ilmu nahwu dan morfologi Arab dengan baik, agar lebih mudah menyerap, terutama ilmu balaghah yang dianggap sulit itu akan lenyap sendiri.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Ash-shabuny, Muhammad Ali. Rawai'I-Bayani Tafsiru I-ayati I-ahkami mina I-Ourani. Makkah Al-Mukarramah, 1979
Abu Zayid Zayad, Abdu al-Roziy, Siria 1992. Tatawuru Mafhum Al-Balaghah.
Basyir Hasan Kamal, DR Binau s-surati I-fanniyah fibayani I-arabi. Damaskus Bairut. 1987.